Postingan

The People's Champion

Gambar
Jika anda pernah nonton film 'Real Steel', frasa The People's Champion mungkin tidak asing. Tapi jika belum, biarkan saya ceritakan sedikit sinopsis film tentang dunia tinju antar robot itu. Atom adalah robot milik Max yang tidak diperhitungkan. Ia kecil ceking, rongsok, dianggap lemah. Sebelumnya dia memang hanya sekadar robot sparring, diciptakan untuk latihan. 'Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk'. Setiap hari dipukuli, Atom jadi tangguh. Dia bertarung dari level 'tarkam', hingga level 'pro'. Ia-pun naik ring di turnamen paling bergengsi dikotanya. Atom menantang juara bertahan Zeus, robot mahal nan canggih milik petahana Tak Mashido dan Farra Lemkova. Eh, sebelumnya Farra sempat mau mengakusisi Atom. Farra ngebet mau 'membeli kebenaran'. Max jelas menolak. Pertarungan dimulai. Menurut survey, Zeus unggul disegala sisi. Dia kuat, besar, canggih. Kontras dengan Atom. Zeus diprediksi menang mudah. Jangan lupa bahwa Zeus ...

Barisan sakit hati ? (Fenomena Peralihan Dukungan di Pilwalkot Parepare)

Gambar
Orang orang yang pernah mendukungmu, kemudian mengalihkan pilihannya ke FAS, sangat tak elok kau nistakan dengan sebutan   barisan sakit hati . Ingat, meski mungkin tak ada harganya bagimu, minimal sekali, minimal sekali, 2013 silam mereka pernah berpeluh keringat di TPS menunggu giliran mencoblos. Lalu saat gilirannya tiba mengucap bismillah mencoblos fotomu yang menjengkelkan itu. Paling tidak mereka pernah mengeluarkan beberapa lembar rupiah, mentraktir teman di warkop hanya agar mereka sudi mendengar program-programmu (yang sebagian besar kau ingkari, berganti dengan patung dan bangunan mangkrak). Lalu kini seenak perut kau bilang mereka  barisan sakit hati , berambisi, dan tidak ikhlas ? Keegoisan dan arogansimu, membuatmu sombong dan merasa hanya kau dan fee 17 persenmu yang bisa membangun kota kami. Sehingga saat bangkit harapan baru pada diri FAS, Asriady, YL, TSM dkk, sikapmu gamang. Makin hari semakin panik dan sporadis, sampai akhirnya ...

Setahun Senyum itu Pergi

Gambar
Ini ditulis pada hari Zain Katoe wafat ------------------------------------- Selamat jalan Senyum itu... Obituari adalah berita tentang seseorang yang baru saja meninggal dunia. Biasanya dibuat untuk orang-orang besar. Atau setidaknya ba gi orang-orang yang selama hidupnya memberikan banyak inspirasi. Begitu kata Wikipedia. Selama menjadi jurnalis, saya beberapa kali menulis orbituari. Sebagian besar diantaranya tokoh-tokoh di Makassar. Biasanya jika terbit cetak, latar belakangnya akan dibuat lebih gelap, hitam sebagai tanda duka... Pagi ini saya kembali menulis sepenggal orbituari. Mantan walikota Parepare Zain Katoe baru saja dipanggil kembali keharibaanNya. Tetapi tidak seperti biasanya, saya kesulitan menulis inspirasi terbaik yang pernah dilakukan tokoh yang satu ini. Bukan karena tidak ada, namun karena kisah kekaguman dan puji-pujian orang sekitar saking banyaknya, saya sulit memilah yang mana yang mesti diangkat ke permukaan. Perkenalanku-pun dengan ZK tidak la...

Hasim dan Hamsia, Kisah Dua Bocah Putus Sekolah di Sidrap

Gambar
* Kayuh Becak Puluhan Kilometer Setiap Hari dari Lancirang ke Pangkajene Dua becak beriringan, dikayuh pelan oleh betis-betis mungil milik dua bocah. Kaki mereka kumal, tanpa sandal. Keringat bercucuran menantang terik menyusuri jalan raya. Hamsah dan Hamsia, demikian mereka memperkenalkan diri. Dua bersaudara ini berusia masing-masing 10 dan 9 tahun. Penulis menemui keduanya dijalur Trans Sulawesi, tepatnya di Empagae, Sidrap, Senin 7/1. Hamsia nampak lebih ramah saat diajak bicara. Rambutnya tergulung keatas, ditutupi topi lusuh. Ia mengenakan celana pendek dan baju bola berwarna pink yang kebesaran, mungkin punya kakaknya. Mereka mengayuh becak itu dari rumah mereka di Lancirang, menuju Kota Pangkajene. Atap becak itu dilepas agar menampung muatan lebih banyak. Ada lima karung berisi plastik dan kardus bekas dijejal diatasnya. "Buat dijual (ke pengepul, red) kak. Bantu orangtua," kata Hamsia terbata-bata. Dalam sehari mereka bisa dua kali bolak-balik Lanciran...

Jangan Menerima Tamu Orang Syiah, Nanti Urusannya Bakal Panjang....

Gambar
Tentu judul tersebut hanya sekadar satire. Ini harus saya sampaikan lebih awal, karena penafsiran yang mungkin macam-macam. Nanti malah urusannya panjang, eh... Beberapa hari belakangan, dunia akademik dihebohkan dengan pernyataan Rektor UIN Alauddin Prof. Musafir Pababari. “Jangankan Syiah, komunis pun saya terima di UIN Alauddin. Dan sudah berapa yang datang di UIN, yang humanis, yang komunis, yang tidak ada masalah sama saya. Saya terima semua,” demikian dikutip sejumlah media. Pernyataan itu disampaikan Rektor saat berdialog dengan Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Indonesia Timur, Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Sulawesi Selatan, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Muslim Makassar, Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI), dan Forum Arimatea Sulsel, di ruang kerjanya di kampus II UIN, Samata, Kabupaten Gowa, pada Rabu (27/12/2017). Mereka mengkritisi kedatangan Ghasem Muhammadi dan Ebrahim Zargar, pengajar dari Al Mustafa International University of Iran, ...

Dg Sila, Terima Kasih Legenda !

Gambar
M Haris Syah MAKASSAR Saya mengawali karir sebagai jurnalis olahraga. PSM menjadi desk liputan yang memang saya pilih, semata karena hobi sepakbola dan kesempatan lebih dekat dengan tim kebanggaan, Juku Eja. Saya rasa, semua jurnalis olahraga di Sulsel suka meliput PSM. Juga, hampir seluruh media ‘wajib’ menempatkan satu reporternya di desk PSM. Tugas pertama saya sebagai reporter PSM, adalah meliput persiapan pertandingan ujicoba saat jeda ISL. Hari itu, saya ingat persis. 26 Maret 2014, PSM akan away ke Semen Padang. Sang kapten Syamsul Chaeruddin mungkin tidak tau, dia adalah narasumber pertama saya. Saat itu saya menemuinya di Karebosi. Dg Sila latihan terpisah dengan skuat. Dia hanya melakukan gerakan-gerakan kecil dipinggir lapangan, bersama dua penyerang Andi Oddang dan Kaharuddin. Mereka sedang cedera. Saya menghampirinya agak malu-malu. Maksudnya sih mau wawancara. Syamsul -bagi orang kampung seperti saya- hanya biasa saya saksikan di TV tetangga. "Bisa jaki ma...

Media Cetak dan Senjakala yang Datang Lebih Cepat

Gambar
Saya masih sangat hafal, harga majalah Bola Rp7000 medio 2005... Setiap Selasa dan Jumat,,, uang jajan di SMA mesti sy sisihkan, untuk sekadar tau bagaimana pergerakan klasemen Liga Italia dan Inggris, sudah diperingkat berapa tim kesayangan, Liverpool. Waktu itu belum ada livescore. Untuk berita lokalan, paling halaman pertama yg saya cari adalah sepakbola nasional. Sudah berapa gol yang dicetak Ronald Fagundez di PSM. Atau sok-sok'an membantah analisis canggih bung Ian Situmorang.. Beranjak kuliah, om yang saya tempati numpang tinggal berlangganan Kompas. Saya paling senang membaca kolom Kilasan Kawat Dunia. Isinya peristiwa-peristiwa unik dari manca negara. Gaya penulisannya yang ringkas padat juga menarik. Saat dipanggil masuk ruang dosen (paling sering gegara malas masuk kuliah, atau memprovokasi teman2 turun demo) yang pertama sy cari bukan dosennya, tetapi koran langganan kampus. Tribun Timur, FAJAR dan Parepos saat itu sudah hadir digantung rapi disudut ruangan. ...