Postingan

Setahun Senyum itu Pergi

Gambar
Ini ditulis pada hari Zain Katoe wafat ------------------------------------- Selamat jalan Senyum itu... Obituari adalah berita tentang seseorang yang baru saja meninggal dunia. Biasanya dibuat untuk orang-orang besar. Atau setidaknya ba gi orang-orang yang selama hidupnya memberikan banyak inspirasi. Begitu kata Wikipedia. Selama menjadi jurnalis, saya beberapa kali menulis orbituari. Sebagian besar diantaranya tokoh-tokoh di Makassar. Biasanya jika terbit cetak, latar belakangnya akan dibuat lebih gelap, hitam sebagai tanda duka... Pagi ini saya kembali menulis sepenggal orbituari. Mantan walikota Parepare Zain Katoe baru saja dipanggil kembali keharibaanNya. Tetapi tidak seperti biasanya, saya kesulitan menulis inspirasi terbaik yang pernah dilakukan tokoh yang satu ini. Bukan karena tidak ada, namun karena kisah kekaguman dan puji-pujian orang sekitar saking banyaknya, saya sulit memilah yang mana yang mesti diangkat ke permukaan. Perkenalanku-pun dengan ZK tidak la...

Hasim dan Hamsia, Kisah Dua Bocah Putus Sekolah di Sidrap

Gambar
* Kayuh Becak Puluhan Kilometer Setiap Hari dari Lancirang ke Pangkajene Dua becak beriringan, dikayuh pelan oleh betis-betis mungil milik dua bocah. Kaki mereka kumal, tanpa sandal. Keringat bercucuran menantang terik menyusuri jalan raya. Hamsah dan Hamsia, demikian mereka memperkenalkan diri. Dua bersaudara ini berusia masing-masing 10 dan 9 tahun. Penulis menemui keduanya dijalur Trans Sulawesi, tepatnya di Empagae, Sidrap, Senin 7/1. Hamsia nampak lebih ramah saat diajak bicara. Rambutnya tergulung keatas, ditutupi topi lusuh. Ia mengenakan celana pendek dan baju bola berwarna pink yang kebesaran, mungkin punya kakaknya. Mereka mengayuh becak itu dari rumah mereka di Lancirang, menuju Kota Pangkajene. Atap becak itu dilepas agar menampung muatan lebih banyak. Ada lima karung berisi plastik dan kardus bekas dijejal diatasnya. "Buat dijual (ke pengepul, red) kak. Bantu orangtua," kata Hamsia terbata-bata. Dalam sehari mereka bisa dua kali bolak-balik Lanciran...

Jangan Menerima Tamu Orang Syiah, Nanti Urusannya Bakal Panjang....

Gambar
Tentu judul tersebut hanya sekadar satire. Ini harus saya sampaikan lebih awal, karena penafsiran yang mungkin macam-macam. Nanti malah urusannya panjang, eh... Beberapa hari belakangan, dunia akademik dihebohkan dengan pernyataan Rektor UIN Alauddin Prof. Musafir Pababari. “Jangankan Syiah, komunis pun saya terima di UIN Alauddin. Dan sudah berapa yang datang di UIN, yang humanis, yang komunis, yang tidak ada masalah sama saya. Saya terima semua,” demikian dikutip sejumlah media. Pernyataan itu disampaikan Rektor saat berdialog dengan Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Indonesia Timur, Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Sulawesi Selatan, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Muslim Makassar, Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI), dan Forum Arimatea Sulsel, di ruang kerjanya di kampus II UIN, Samata, Kabupaten Gowa, pada Rabu (27/12/2017). Mereka mengkritisi kedatangan Ghasem Muhammadi dan Ebrahim Zargar, pengajar dari Al Mustafa International University of Iran, ...

Dg Sila, Terima Kasih Legenda !

Gambar
M Haris Syah MAKASSAR Saya mengawali karir sebagai jurnalis olahraga. PSM menjadi desk liputan yang memang saya pilih, semata karena hobi sepakbola dan kesempatan lebih dekat dengan tim kebanggaan, Juku Eja. Saya rasa, semua jurnalis olahraga di Sulsel suka meliput PSM. Juga, hampir seluruh media ‘wajib’ menempatkan satu reporternya di desk PSM. Tugas pertama saya sebagai reporter PSM, adalah meliput persiapan pertandingan ujicoba saat jeda ISL. Hari itu, saya ingat persis. 26 Maret 2014, PSM akan away ke Semen Padang. Sang kapten Syamsul Chaeruddin mungkin tidak tau, dia adalah narasumber pertama saya. Saat itu saya menemuinya di Karebosi. Dg Sila latihan terpisah dengan skuat. Dia hanya melakukan gerakan-gerakan kecil dipinggir lapangan, bersama dua penyerang Andi Oddang dan Kaharuddin. Mereka sedang cedera. Saya menghampirinya agak malu-malu. Maksudnya sih mau wawancara. Syamsul -bagi orang kampung seperti saya- hanya biasa saya saksikan di TV tetangga. "Bisa jaki ma...

Media Cetak dan Senjakala yang Datang Lebih Cepat

Gambar
Saya masih sangat hafal, harga majalah Bola Rp7000 medio 2005... Setiap Selasa dan Jumat,,, uang jajan di SMA mesti sy sisihkan, untuk sekadar tau bagaimana pergerakan klasemen Liga Italia dan Inggris, sudah diperingkat berapa tim kesayangan, Liverpool. Waktu itu belum ada livescore. Untuk berita lokalan, paling halaman pertama yg saya cari adalah sepakbola nasional. Sudah berapa gol yang dicetak Ronald Fagundez di PSM. Atau sok-sok'an membantah analisis canggih bung Ian Situmorang.. Beranjak kuliah, om yang saya tempati numpang tinggal berlangganan Kompas. Saya paling senang membaca kolom Kilasan Kawat Dunia. Isinya peristiwa-peristiwa unik dari manca negara. Gaya penulisannya yang ringkas padat juga menarik. Saat dipanggil masuk ruang dosen (paling sering gegara malas masuk kuliah, atau memprovokasi teman2 turun demo) yang pertama sy cari bukan dosennya, tetapi koran langganan kampus. Tribun Timur, FAJAR dan Parepos saat itu sudah hadir digantung rapi disudut ruangan. ...

Om Simon, dari Maumere Menantang Kerasnya Parepare

Gambar
M Haris Syah PAREPARE Namanya Simon, asli Maumere, Flores. Dia senang disapa Om Simon. Pria berkulit legam yang jika anda di Parepare, mungkin pernah anda dapati menyusuri jalan. Atau mungkin pernah mampir mengetuk rumah anda, menawarkan jasanya. Simon bekerja sebagai 'tukang kebun'. Setiap hari dia berjalan kaki dari rumah ke rumah menawarkan tenaganya membersihkan halaman rumah. Setiap hari pula, dia menenteng karung berisi bermacam-macam alat. Cangkul kecil, parang, sabit, juga ada gunting rumput. "Sampah, rumput, bahkan pohon juga bisa. Pokoknya sampai halamannya rumah bersih, saya bisa kerjakan," kata Simon, saat membersihkan halaman salah satu rumah di perumahan Yasmin Garden. Sebidang halaman untuk rumah tipe 36 hingga 45, bisa dia bersihkan dalam waktu 2 jam. Hasil kerjanya memuaskan, demikian kata salah satu warga. Upahnya berkisar Rp50ribu sampai Rp100 ribu. Saat upahnya itu disodorkan, dia tersenyum lebar memamerkan giginya yang putih. ...

Saking Miskinnya, Dia Hanya Makan Jagung Kering

Gambar
M HARIS SYAH Lemoe Tidak begitu sulit menemukan rumah itu. Sebenarnya lebih pantas disebut gubuk. Berdiri ringkih dipinggir jalan Lingkar, Lemoe Parepare. Penulis mengunjunginya beberapa waktu lalu. Ada rasa khawatir saat menaiki anak tangganya yang keropos. Bisa ambruk sewaktu-waktu. Gubuk itu doyong ke kanan. Tiga batang potongan pohon menyangganya, sementara sisi kiri diikat tambang pada tiang listrik. Didalamnya tinggal nenek Deleng, orangtua berusia 70 tahun. Dia sedang mengeringkan jagung saat penulis menyapa salam. Belakangan penulis tau, jagung kering itu nantinya dia masak untuk dimakan layaknya nasi. “Ini untuk dimakan nak, kalau ada beras kita syukur, kalau tidak ada kita makan jagung lagi,” katanya. Kami berbincang diteras. Disamping gubuknya memang ada sawah tadah hujan. Tidak begitu luas. Kira-kira seukuran lapangan tenis. Sawah itu dia garap sendiri, tentu dengan dibantu tetangga sesama petani yang berbaik hati membajak sawahnya. Dipematang sawah itu ditanami...