Postingan

Menyoal Polisi Menggunduli Guru

Gambar
(foto: Merdeka.com) M Haris Syah (pengajar) Judul diatas awalnya saya tulis 'Menyoal Polisi Menggunduli Tersangka'. Meski kalimat itu sudah tepat, sebab tiga guru yang diduga bertanggungjawab atas insiden susur sungai di Sleman telah berstatus tersangka atau terdakwa. Inipun masih tersangka. Belum merupakan terpidana. Setelah saya pikir-pikir, diikuti dengan riset kecil-kecilan, ternyata tidak semua tersangka yang ditahan polisi mendapat perlakuan serupa. Apalagi jika dibuat lebih spesifik, mereka yang dijerat pasal 359 KUHP juga tidak semuanya digunduli. Mari kita ambil contoh kasus yang sama-sama viral. Kita tentu masih ingat dua kasus anak orang penting, yang menabrak pengguna jalan. Putra Ahmad Dani, Dul dan putra Hatta Rajasa, Rasyid Rajasa. Masing-masing menewaskan 6 dan 2 orang.  Seingat saya, polisi tidak pernah menggunduli mereka. Padahal jika dibandingkan dengan kasus guru ini, penyebabnya kurang lebih sama. Kelalaian. Juga pasal yang menjerat mereka. ...

Seni Berbahagia

Gambar
Sedikit orang yang mampu menyingkap rahasia-rahasia hidup sehat nan bahagia. Salah satunya mungkin saya temukan sedang antri di loket RS Massenrempulu. Ia duduk menunggu panggilan, dengan memakai baju berlogo Kementerian PU. Kopiah dan celana kain berwarna pudar. Namanya Asrjad Baba. Seorang pensiunan Dinas PU. Katanya, Asrjad itu ejaan lama untuk nama Arsyad. Senyumnya beberapa kali mengembang saat melafalkan huruf SRJ menjadi Y, memperlihatkan giginya yang h anya tinggal beberapa. Pak Asryjad tidak lagi muda. Ia setua republik ini. Lahir 1945. Tapi berkali kali ia mengucap Alhamdulillah, sebab tubuhnya masih bugar. Dia hanya menginjak RS ini karena 2 alasan. Memeriksakan matanya yang mulai rabun, atau menjenguk kerabat yang sakit. Saat kutanya rahasianya sehingga ia sehat wal afiat hingga kini, jawaban pertama yang ia lontarkan adalah menjaga hati senantiasa bahagia. Katanya ini memang sulit. Orang lain punya jalan bahagia masing-masing. Ia menemukannya di seni. "S...

Beberapa Bulan yang Membanggakan

Gambar
M Haris Syah (mantan jurnalis Tribun Timur,  TribunSidrap.com ) Saya menjadi jurnalis sejak Maret 2014. Namun baru pada akhir 2018, merasakan bergabung bersama Tribun Timur. Lalu resign pada 2019. Singkat memang. Tapi berat sekali rasanya saat surat resign itu ku-amplop-kan bersama dua kartu pers saya. Kartu pers paling keren yang pernah kupunya. Saya harus mengumpulkan banyak energi dan keberanian untuk menyampaikan pengunduran diriku. Berat sekali. Sampai saya tidak bernyali untuk datang ke newsroom, ata u bahkan sekadar menelpon. Para senior di Jalan Cendrawasih mengajarkan banyak sekali. Hyper Local, militansi ala Tribun, trik membuat breaking news, running news, sampai berita video. Itu semua sejatinya bukan hal baru, tapi Tribun melakukannya dengan gaya berbeda. Keren pula. Redaksi dan sistem kerjanya tertata rapi dan efisien. Target kerja dan evaluasi sangat detail lewat Key Performance Indicator. Di Sulsel, bahkan mungkin di Indonesia, saya berani bilang Tribu...

Kemana Islam Cinta Kita ?

Gambar
ilustrasi (liputan6) M Haris Syah Dulu, Berislam pada masa kanak-kanak sangat menyenangkan. Di sekolah, guru agama kami mengajarkan Islam yang penuh kasih dan toleransi. Tak pernah kami dengar guru kami menuduh orang bid'ah, sesat, atau kafir. Guru ngaji kami dikampung, meski bukan lulusan Timur Tengah, toh berhasil mbikin kami bisa mengaji. Imbalannya angkut air sampai gentongnya penuh. Sore hari kami ikut semacam pesantren di mesjid Muhammadiyah. Kami diajar tajwid, surah-surah pendek, hingga akidah akhlak oleh ustaz-ustazah. Istilahnya 'massikola ara'. Meski begitu, penampilan mereka tak perlu kearab-araban. Sangat Bugis, sangat Indonesia. Muharram adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu warga. Pada bulan itu, anak-anak muda akan mendirikan panggung besar ditengah kampung. Lomba lagu-lagu salawat digelar meriah. Ya Thoybah dan salawat badar dihafal diluar kepala. Cinta Rasul jadi kaset yang paling dicari. Begitu pula bulan Rabiul Awal. Mesjid-mesjid bers...

Media Online dan Hoaks

Gambar
Media Online dan Hoaks (Disajikan pada Pelatihan Dasar Jurnalistik KNPI ) A.       Perkembangan media online di Indonesia Internet mulai digunakan untuk kepentingan komersial di Indonesia terhitung sejak 1995. Dalam laporan Onno W. Purbo dkk. berjudul "Computer Networking in Indonesia: Current Status and Recommendations for its Developments" terbitan 1996, diperkirakan ada 20 ribu pengguna internet pada 1995 Pada 2014 pengguna internet di Indonesia telah mencapai  82 juta orang , atau peringkat ke-8 di dunia. Awal 2015, APJII bekerja sama dengan PusKaKom Universitas Indonesia (UI) merilis, pengguna internet hingga akhir 2014 mencapai  88,1 juta , atau sekitar 34,9 persen dari total jumlah penduduk. Sekarang (2019) sudah mencapai 171 juta lebih, peringkat ke-4 di dunia -            17 Agustus 1995 : Republika Online (ROL - republika.co.id...

PWI Sidrap-Enrekang Berada di Jalur yang Tepat

Gambar
M Haris Syah (mantan jurnalis) Menyandang profesi jurnalis, tidak semudah dan sekadar menggantungkan id card di leher. Kata Uncle Ben Parker, 'great power comes great responsibility'. Karena itu, tanggungjawab profesi yang demikian besar, haruslah diemban oleh orang yang tak hanya punya kompetensi dan berwawasan luas. Tetapi juga punya integritas yang tak mudah goyah oleh godaan apapun. Hal-hal itu saya amati ada pada kak Edy Basri. Ketua terpilih Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sidrap-Enrekang. Setidaknya, pengamatan saya itu bukan tanpa alasan, juga bukan sekilas lalu. Jauh sebelum saya mengenal dunia jurnalistik, kode (eby) sudah kerap kali saya baca diujung berita koran FAJAR.  Boleh dibilang, beliau salahsatu guru jurnalistik saya. Pun setelah saya menyeberang Tribunnews, yang notabene rival FAJAR, Kak Edy masih sering memberi arahan. Bahkan sering turun liputan sama-sama. Dengan membawa nama dua media terbesar di Sulsel, kami bisa saja melakukan banyak hal-...

Ikutan Ribut Tentang Cadar dan Cingkrang

Gambar
Ilustrasi (foto: The Conversation) Wacana melarang ASN memakai celana cingkrang dan cadar, menjadi bola panas. Sepekan sudah masalah ini jadi polemik. Berkepanjangan, digoreng sana-sini, dikomentari ragam kalangan. Padahal, aturan ini belum juga diberlakukan. Sebagian yang merespons menolak justru ternyata bukan ASN. Mereka hanya sekadar ikut meramaikan budaya bermedsos kita yang penuh nyinyir dan caci maki. Saya tertawa lebar membaca berita Detik.com, tentang salah seorang artis hijrah ikutan komentar tentang larangan ini. Seorang warganet yang lugu menimpali, 'Itu aturan untuk ASN, Bambang !. Bukan untuk artis' Bagi saya (yang kebetulan ASN), kita mesti melihat hal ini secara jernih. Yang akan dilarang adalah ASN. Bukan akhi-ukhti syar'i-syar'i-an, bukan artis hijrah-hijrahan, bukan pula ibu-ibu pengajian. Adalah benar bahwa berpakaian itu adalah masalah privat seseorang. Tetapi ASN terikat oleh aturan-aturan. Ini pointnya. Dan ini wajib dihormati dan di...