Postingan

Cerita Sakiman, Jalan Kaki Keliling Indonesia

Gambar
// Empat Tahun Jelajahi Nusantara, Targetkan Asia Tenggara Sakiman punya cara berbeda mengapresiasi keindahan Indonesia. Dia berkeliling nusantara dengan berjalan kaki. Setahun petualangannya, banyak inspirasi yang jadi pelajaran berharga. M HARIS SYAH Parepare Wajahnya bercucuran keringat, nampak lusuh selusuh pakaian yang dia kenakan. Derap sendal jepit butut seirama langkah kakinya, sesekali dia menoleh kanan-kiri menikmati perjananan. Saat itu penulis mendapatinya tengah melintas di perbatasan Barru-Parepare. Dialah Sukiman Warsono, pria yang terkenal dengan aksinya berjalan kaki keliling Indonesia. Kehadirannya dijalan poros Parepare-Makassar menyita perhatian pengendara dan warga. Saat hendak difoto, wajahnya tertunduk malu-malu. Tetapi begitu penulis memperkanalkan diri sebagai wartawan, wajahnya berubah sumringah. "Sudah biasa ketemu wartawan," katanya. Maklum, aksi jalan kakinya yang fenomenal, sudah diliput pelbagai media. Sudah setahun pria Pekalong...

Melihat Uniknya Maulid Perahu di Maros

Gambar
Habiskan Ratusan Juta, Diikuti Ribuan Jamaah Warga Desa Damai, Tanralili punya cara unik memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tiap tahun, mereka menggelar tradisi Maudu Lompoa menggunakan ratusan perahu. Makanya, tradisi itu juga biasa disebut Maulid Perahu. M HARIS SYAH Tanralili Desa Damai berjarak sekira 20 kilometer dari pusat Kota Maros. Meski jauh dari hiruk pikuk kota, namun ada hari dalam setahun desa ini dikunjungi ribuan orang dari seluruh penjuru Maros. Mereka ikut memperingati maudu' lompoa, atau peringatan maulid dengan menggunakan perahu yang diisi telur, songkolo hingga barang kebutuhan sehari-hari. Maulid perahu semacam ini, bisa ditemukan pula didaerah pesisir pantai Cikoang, Takalar. Namun, Desa Damai bukanlah wilayah pesisir sehingga perahu-perahu itu ditancapkan ditanah lapang menggunakan tiang kayu. Jumlahnya cukup fantastis, mencapai lebih dari 500 buah. Perahu-perahu itu tak hanya berhias telur, kado minya’ dan lauk dalam ember. Tetapi juga sar...

Puskesmas Tolak Pinjamkan Ambulans, Jenazah Diangkut Pakai Mobil Bak Penjual Ikan

Gambar
Kasus buruknya pelayanan kesehatan di Sulsel kembali terulang. Kali ini di pegunungan Camba, Desa Labuaja, seorang warga yang meninggal di Puskesmas Cenrana, mesti diangkut menggunakan mobil bak penjual ikan. Miris, Puskesmas menolak meminjamkan ambulans. M HARIS SYAH Labuaja Wajah-wajah sedih terlihat mengantar jenazah Denggang, kakek berusia 85 tahun ke tempat peristirahatan terakhirnya, di pemakaman Desa Labuaja. Namun bukan semata kepergian Denggang yang mereka tangisi, namun nasib malang yang masih mendera meski nafas terakhirnya telah dia hembuskan. Denggang, yang menderita komplikasi penyakit akibat uzur, wafat sekira pukul 09.00 wita di Puskesmas Cenrana, Rabu 30 Desember. Salah satu keponakan Denggang yang ditemui penulis usai pemakaman, M Rusli bertutur, setelah dinyatakan wafat, pihak keluarga rencananya meminjam ambulans untuk mengantar jenazah ke rumah duka, di Desa Labuaja, Camba. Namun apa daya, keluarga Denggang hanya rakyat kecil. Permintaan mereka meminja...

Yang Tersisa dari Pilkada 2015; TPS Pengantin Hingga Nuansa Petani

Gambar
M HARIS SYAH Maros Pelbagai macam cara dilakukan TPS untuk menarik minat warga menggunakan hak pilihnya. Di Kabupaten Maros, petugas menyulap TPS mirip lokasi resepsi pengantin hingga dihias dengan nuansa pertanian. Salah satu warga Maros, Alfiana mendatangi TPS 01 di Turikale dengan busana tidak seperti hari-hari biasa. Pakaian dan dandanan-nya agak mencolok, mirip orang yang akan ke kondangan. Maklum, TPS yang didatanginya hari itu juga dihias mirip resepsi pengantin. "Biar serasi dengan suasananya," kata Alfiana, sembari menyetor undangan memilihnya kepada petugas, yang juga berdandan menor hari itu. TPS yang bertempat di kolong rumah panggung itu memang dipermak habis oleh petugas TPS. Desainnya seperti sedang ada pesta pernikahan. Selain sebuah tenda biru yang dibentangkan diluar, disekeliling TPS juga dibalut kain berwarna kuning dengan hiasan dipinggir berwarna emas. "Ini memang ornamen pesta pernikahan. Kita dipinjami oleh salah satu warga, yah supa...

Yang Tersisa dari Tragedi Crane Mekkah

Gambar
Hentikan Pendarahan Dengan Air Zam-zam M HARIS SYAH Maros Aiptu Subandi, polisi yang bertugas di Polsek Turikale Maros menunaikan ibadah haji bersama sang istri Hasrah. Nurjannah, saudara dari Hasrah yang ditemui penulis beberapa waktu lalu bercerita, Subandi dan Hasrah tengah berada di belakang Maqam Nabi Ibrahim saat tragedi Crane terjadi. "Saudara kami disana menyampaikan, Subandi dan Hasrah sedang istirahat, menunggu waktu salat. Tiba-tiba itu (runtuhnya crane,red) terjadi dan dia tidak sempat lagi menyelamatkan diri," ucapnya seraya terisak memegangi foto keluarganya. Untungnya, Hasrah tidak menderita luka serius, hanya Subandi yang terkena hantaman salah satu tiang besi pada bagian kepala. Ditengah hiruk kepanikan, Hasrah segera membopong suaminya, menyelamatkannya dari reruntuhan. "Kepalanya banyak mengeluarkan darah, Subandi minta supaya disiramkan air zam-zam, beberapa saat pendarahan-pun berhenti," urainya. Kemarin Subandi sudah mendapatkan ...

Rammang-Rammang, Destinasi Baru Wisata Sulsel

Gambar
// Hanya Tiga di Dunia, Satu-satunya di Indonesia Menyusurinya seperti bertamasya ke zaman megalitik. Lidah selalu mendecak kagum saat pandangan menyapu bongkahan karst dimana-mana, menyelinap diantaranya goa-goa gelap penuh misteri. M HARIS SYAH Maros Bukan pertama kalinya penulis berkunjung ke Rammang-rammang, Maros. Hanya satu jam dari Makassar untuk sampai di dermaganya di Desa Salenrang. Setiba di dermaga kecil, penulis disambut oleh Kepala Desa Salenrang, Muh Nasir dengan katintingnya. Perahu kayu bermuatan dua orang itu yang mengantar kami menyusuri sungai yang disebut Sungai Pute itu, kali ini gratis, kata Nasir. "Biasanya wisatawan bayar Rp125 ribu hingga Rp300 ribu pulang pergi," ujarnya sembari mendayung katinting. Dari dermaga ke spot Rammang-rammang, jaraknya sekira 30 menit naik katinting. Arus Sungai Pute cukup tenang, meski sesekali penulis harus mengangkat kamera agar terhindar dari percik riak saat katinting melaju diantara bebatuan sungai. D...

Wisata Berburu Pertama di Sulsel

Gambar
M HARIS SYAH Keera Kabupaten Wajo banyak memiliki potensi wisata yang belum dimaksimalkan. Baik wisata alam maupun wisata olahraga. Salah satu yang bakal dikembangkan Pemkab adalah wisata berburu di Kecamatan Keera. Keera merupakan kecamatan yang berjarak 70 kilometer dari Kota Sengkang, Ibu Kota Kabupaten Wajo. Lokasi wisata berburu tersebut berada di kawasan perkebunan sawit PTPN XIV. Areal seluas 15 hektare itu bakal jadi wisata berburu pertama di Sulsel. Area berburu di Wajo sebenarnya terdiri dari tiga kecamatan, masing--masing Keera, Gilireng, dan Pitumpanua. Namun Keera yang memiliki area berburu yang paling luas. Bupati Wajo, Andi Burhanuddin Unru menjelaskan Wajo siap menjadikan berburu sebagai salah satu olahraga unggulan. Seperti tetangganya, Sidrap yang terkenal dengan olaharaga balapnya, maka Wajo akan dikenal dengan olahraga berburunya. Andi Bur -sapaan akrabnya- mengaku telah menyiapkan desain terpadu di tempat itu. Rencana tersebut telah diusulkan Dispora Wa...