Postingan

Dari Enrekang, untuk Habibie

Gambar
Siswa-siswi UPT SD 1 Enrekang memegang pesawat kertas, mengenang BJ Habibie (foto: M Haris Syah)   Penulis : M Haris Syah (pengajar) Entah kebetulan, hari ini pelajaran anak-anak sampai pada pembahasan tentang tokoh dan penemuannya... Subtema 3 buku pelajaran mereka mengulas biografi Habibie sebanyak 2 halaman. Lebih panjang dibandingkan deretan penemu lain yang juga dibahas dibuku ini. Anak-anak memulai pelajaran dengan hening cipta. One minute silent. Doa-doa dilafalkan tenang. Khidmat sekali. Setelah itu kubiarkan saja mereka bercerita. Tentang berita yang mereka tonton semalam. Anak-anak itu kini paham kenapa bendera dihalaman sekolah hari ini tak sampai puncak. Anak-anak lalu membuat pesawat kertas. Modelnya macam-macam. Ada yang tidak berbentuk pesawat malah. Lebih mirip UFO. Tetapi mereka anak-anak yang cerdas. Bukan soal bentuk. Tapi pesan yang terkandung didalamnya. Selain ungkapan duka, anak-anak menulis doa-doa mereka di lembaran pesawat kertas itu. Bahk...

Nongkrong Keren di Enrekang Tanpa Bikin Kantong Jebol

Gambar
Tugu Sapi di Kota Enrekang (foto: Tribunnews.com) Penulis: M Haris Syah (orang baru di Enrekang)   Kesan yang pertama kali saya rasakan di Enrekang Kota, adalah membosankan. Ya, saya terbilang orang baru, lantaran baru mulai bekerja di daerah ini. Selepas jam kantor, saya kadang bingung harus kemana untuk sekadar bersantai. Tapi itu hanya terjadi pada minggu-minggu pertama. Seiring waktu, ternyata Kota Enrekang memiliki tempat-tempat keren yang tidak kalah unik dan menarik dibanding daerah lain. Kabar baiknya, datang ke tempat-tempat itu tidak bikin kantong jebol. Patut disimak bagi kalian yang sedang berkunjung, atau melintas dan butuh tempat mampir yang asik. Ini sekaligus referensi bagi yang baru pertama kali menginjakkan kaki disini. Nah pertama, warkop atau cafe. Ini sepertinya jadi syarat tidak resmi atas kerennya suatu daerah. Menjamurnya warkop dan mewabahnya budaya ngopi di warkop juga tak luput menjangkiti daerah ini. Apalagi Enrekang adalah salahsat...

PSM, Gelar Juara dan Perjuangan Diluar Lapangan

Gambar
Penulis: M Haris Syah (pengajar, mantan jurnalis, pernah beberapa kali meliput PSM) Salah satu atmosfer yang paling kurindukan di Mattoanging, adalah suasana ruang jumpa pers sesaat setelah pertandingan berakhir. Selain euforia suporter di tribun tentunya. Waktu itu, peluh keringat Syamsul Chaeruddin dkk belum juga kering, tetapi mereka sudah harus hadir dihadapan puluhan sorot kamera. Hans Peter Schaller, pelatih PSM saat itu belum didampingi penerjemah. Sedikit bekal kemampuan Bahasa Inggris sungguh sangat membant u. Dua rekan saya sesama desk PSM,  Ardiansyah Hendartin  dan  X Ashri Teruna  malah lebih fasih. Sesaat sebelum azan Magrib tadi, klub kebanggaan Sulsel ini mencatat sejarah baru menjadi juara. Trofi Piala Indonesia tidak jadi dibawa pulang ke ibukota. Dahaga 19 tahun tanpa trofi berakhir. Atmosfer ruang jumpa pers itu kembali melintas dibenak saya. Kilatan flash dan suara jepretan kamera silih berganti dengan pertanyaan yang dilontarkan wart...

Hasim, Hamsia dan Hasni

Gambar
Sore ini saya ketemu Pak Basri (tapi dia memperkenalkan diri dengan nama Abbas) dan tiga anaknya, Hasim, Hamsia, dan Hasni. Nama anak-anaknya berima. Saya ingat bocah-bocah ku dirumah, Hasan dan Husain. Sebelumnya, awal tahun 2018 silam saya sudah pernah ketemu Hasim dan Hamsia. Situasinya sama. Mereka menyusuri jalan dari Pangkajene ke Lancirang membawa plastik bekas untuk dijual. Bukan jarak yang dekat. Sekira 40 km pulang pergi. Apalagi jika hanya pakai gerobak dan becak, bisa 2-3 jam. Dalam sehari, mereka bisa bolak-balik tiga kali. Sekarung plastik, dihargai 2-3 lembar uang dua ribuan. Nampaknya, pekerjaan berat itu masih mereka lakoni hingga kini. Pak Abbas mengayuh gerobak. Diantara tumpukan muatannya, ada perempuan paruh baya. Mungkin istri pak Abbas. Saya tidak sempat tanyakan. Sementara si Hasim mengayuh becak bersama adik-adiknya. Hamsia kadang mengganti kakaknya jika kelelahan. Betis mungilnya menekan pedal dengan kepayahan. Hati siapapun akan teriris melihatnya. ...

Rappang Masih Sejuk (Ditengah Gempuran Wahabisme)

Gambar
Alhamdulillah subuh ini menyimak suyup ceramah dari mesjid dekat rumah di Rappang. Ustaznya meminta jamaah agar tidak gampang mem-bid'ah-kan amalan-amalan yang selama ini dipraktekkan orangtua terdahulu. Salahsatunya yang ia bahas adalah kurban. Idul Adha sebentar lagi. Beliau menjelaskan adat kebiasaan masyarakat berkurban (makkaroba) untuk orangtua yang telah wafat. Ustaz juga mengutip referensi dari ulama-ulama sejuk seperti Gurutta Pabbaja, Kali Sidenreng, dll. Sungguh kita harus banyak bersyukur, karena ulama terdahulu punya kedalaman ilmu yang luar biasa, dan dibarengi adab yang luhur. Penampilan mereka biasa-biasa saja. Tak perlu ke-Arab-arab-an. Sangat Bugis. Mereka juga tidak perlu memakai nama abu ini atau abu itu. Sangat-sangat Bugis. Lewat referensi ulama sekaliber mereka, penceramah kita subuh tadi memberi jalan tengah. Dengan cara berkurban atas nama si anak, namun pahalanya diniatkan kepada orangtua. "Apakah pahalanya sampai? Insya Allah sam...

Teh Melati dan Kekasih Hatiku

Gambar
Penulis: M Haris Syah (Temannya Mario Matutu) Saya sesungguhnya bukan penikmat novel. Diantara koleksi buku di lemari yang kakinya lapuk gegera banjir, hanya ada beberapa, itupun jarang kusentuh. Pun saya juga bukan penulis apalagi sastrawan. Antologi feature dan catatan-catatan di Facebook yang rencananya menjadi buku, terbentur biaya cetak dan hanya sebatas file di hardisk. Tapi keinginan untuk mewujudkan buku itu kembali membuncah setelah membaca 'Kekasih Hatiku'. Kak  Amiruddin Aliah  menegaskan, dalam keterbatasan apapun karya harus tetap lahir. Dan tak sekadar jadi. Belum setengahnya, 'Kekasih Hatiku' sudah membuat saya betah berlama-lama membaca. Hal yang akhir-akhir ini semakin jarang kulakukan. Buku ini serupa class mild dan kopi di tangga lantai 4 Graha Pena. Anak-anak redaksi FAJAR pasti tau. Maccandu kata orang Bugis. Mario Matutu meramu kisah Arung dan Annie dengan cerdik, kisah yang melankolis-romantis. Perjuangan dan tekad Arung menjadikan...

Susu Saset dan si Bungsu yang Sering Diare

Gambar
Ibu dekil nan kurus ini bernama Nurlina. Warga Minrolang'nge, Kelurahan Bumi Harapan, Bacukiki Barat, Kota Parepare. Jalanan tak beraspal menuju rumahnya, sudah cukup menggambarkan bahwa mereka tidak terpantau angka-angka mistik prestasi berderet kota ini. Saat saya datang (2016), ibu lima anak ini sedang mengupas mangga yang dia pungut didalam hutan. Dia jadikan asam untuk dijual. "lumayan, buat beli susu si kecil," katanya, sembari menyeka keringat. Si kecil yang dia maksud tentu bayinya, anak paling buntut, saya perkirakan usianya belum tiga tahun. Susu, dibeli dari hasil jualan mangga?  "Bukan susu bayi nak, susu saset ji kasian dia minum, seribuan. Mana ada uang beli susu bayi," Senyumnya menyembunyikan getir. Bayinya sering diare gegara minum susu yang sama sekali bukan untuk bayi seusianya. Anak yang paling tua tidak lebih beruntung. Dia belum pulang sekolah saat saya disana. Si ibu bilang, sulungnya punya pekerjaan ekstra saat bersekolah. Di...